Kamis, 04 Juli 2013

Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum

Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu begitu hebat dimana segala apa yang dimakan  dan diminum dimuntahkan, sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidarasi, terdapat aseton dalam urin, bukan karena penyakit seperti apendisitis, pielitits dan sebagainya.

Etiologi :
Tidak jelas

Klasifikasi :
Secara klinis dibedakan atas 3 tingkat
1. Tingkat I :
Muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 x/menit dan tekanan darah sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, urine masih normal.

2. Tingkat II  :
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan , haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih 100 - 140 x/menit, tekanan darah sistole lebih rendah 80 mm Hg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus (+), aseton (+), bilirubin (+), berar badan turun cepat.

3. Tingkat III :
Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus (+), sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin (+), proteinuria.

Diagnosis :

  1. Amenorea yang disertai muntah hebat (segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan), pekerjaan sehari-hari terganggu, haus hebat.
  2. Fungsi vital : nadi meningkat 100 x/menit, tekanan darah turun pada keadaan berat subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma),
  3. Fisis : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun. VT porsio lunak, uterus besar sesuai besarnya kehamilan.
  4. Laboratorium : kenaikan relatif Hb dan Hm, shift to the left, benda keton (+) dan proteinuria.

Penatalaksanaan :

  1. Rawat di Rumah Sakit, batasi pengunjung.
  2. Stop per oral 24 - 48 jam.
  3. Infus glukosa 10 % atau 5 % : RL  =   2 : 1
  4. Phenobarbital 30 mg im 2 - 3 x/hari
  5. Antiemetik
  6. Antasida
  7. Vitamin B1, B2, B6, B12

Diet :

  • Diet Hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin c, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.
  • Diet Hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang, Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.
  • Diet Hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

Rabu, 05 Juni 2013

Persalinan Letak Sungsang dan Penatalaksanaannya

Persalinan letak sungsang
Letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dengan kepala terletak pada fundus uetri dan bokong menempati bagian bawah kavum uteri.

Tergantung dari bagian janin yang terendah, dapat dibedakan :
1.     Letak bokong murni : Frank Breech, yakni bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas.
2.     Letak bokong kaki : Complete Breech, yakni disamping bokong teraba kaki. Disebut letak bokong kaki sempurna bila disamping bokong teraba kedua kaki dan letak bokong kaki tidak sempurna bila disamping bokong teraba satu kaki saja.
3.     Letak lutut
4.     Letak kaki
Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut, atau hanya teraba satu kaki atau lutut, disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Incomplete Breech = Footing Breech).

ETIOLOGI :
Diagnosis letak sungsang biasanya tidak sulit. Anamnesis akan didapatkan gerakan anak dirasakan terutama dibagian bawah rahim, adanya perasaan berat didaerah epigastrium, sering merasakan adanya benda keras yang menekan tulang iga.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik :
1.     Palpasi :
Leopold I meraba adanya kepala pada fundus uteri.
Leopold II teraba punggung disatu sisi, bagian-bagian kecil disisi lain.
Leopold III bokong teraba dibagian bawah rahim.
Leopold IV menentukan bokong sudah masuk atau belum kedalam pintu atas panggul.
2.    Auskultasi : Bunyi jantung janin umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pusat.
3.    Periksa dalam vagina : pada pasien inpartu terutama bila ketuban sudah pecah dapat teraba bagian terendah janin yaitu bokong, kaki atau lutut
4.    USG : Diperlukan untuk konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik tidak jelas, menentukan letak plasenta, menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan, kehamilan ganda, taksiran berat badan janin, volume cairan amnion, usia kehamilan dan lain-lain.
5.    Radiologi (bila perlu) : Menentukan posisi tungkai bawah, konfirmasi  letak janin, menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak ( hidrosefalus / anensefalus ), menentukan secara akurat ukuran dan bentuk panggul.

PENATALAKSANAAN :
A.   Dalam kehamilan
Dalam kehamilan sedapat mungkin dilakukan versi luar menjadi letak kepala. Bila syarat-syarat versi luar dipenuhi dan tidak ada indikasi kontra versi luar. Pada nullipara versi luar dilakukan pada umur kehamilan 34-36 minggu, sedangkan pada multipara dilakukan pada umur kehamilan 36-38 minggu. Versi luar dilakukan dengan hati-hati tanpa anestesi. Setelah versi luar dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan Fetal Heart Monitoring. Bila versi luar gagal, dapat dilakukan versi luar 1-2 minggu kemudian, bila tidak ada komplikasi pada janin.
Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai ukuran biparietal, menaksir berat badan janin, ada tidaknya cacat bawaan janin, lokasi plasenta, lilitan tali pusat dan kedudukan kepala apakah hiperektensi atau tidak . Apabila ada dugaan hiperekstensi kepala janin yang tidak jelas dilihat dengan ultrasonografi serta dugaan disproporsi fetopelvik, dilakukan pemeriksaan radiologi.

B.    Dalam persalinan
Beberapa kriteria yang dipakai dalam mempertimbangkan persalinan pervaginam adalah : Umur kehamilan aterm, prakiraan berat badan 2500-3175 gram, stasi -1 atau lebih rendah, serviks lunak, mendatar dan dilatasi lebih dari 3 cm, bentuk pelvik ginekoid atau antropoid dan pernah melahirkan bayi letak sungsang dengan berat badan lebih  dari 3175 gram atau letak kepala dengan berat  badan lebih dari 3630 gram.
Selama persalinan dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan Fetal Heart Monitoring (FHM), yang bila ada kelainan dapat dipertimbangkan melakukan persalinan perabdominam dengan segera.
Menolong kelahiran janin dalam letak sungsang memerlukan kesabaran. Selama turunnya janin tidak terganggu dan tidak ada tanda-tanda janin dalam bahaya, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Dikenal ada 3 tahp dalam menolong persalinan letak sungsang yaitu :
1.    Tahap I : Fase lambat, mulai dari lahirnya bokong sampai pusar (skapula depan). Disebut fase lambat karena hanya untuk melahirkan bokong yaitu bagian janin yang tidak berbahaya.
2.    Tahap II : Fase cepat, mulai lahirnya pusar sampai lahirnya mulut. Disebut fase cepat karena fase ini kepala janin sudah masuk PAP sehingga kemungkinan tali pusat terjepit, oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat harus dilonggarkan.
3.    Tahap III : Fase lambat, mulai lahirnya mulut sampai kepala lahir. Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang bertekanan rendah, sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptura tentorium serebelli).
Dalam persalinan pervaginam sedapat mungkin dilakukan dengan cara Bracht. Pada perkiraan anak besar dan primigravida dapat dipertimbangkan ekstraksi parsial terutama dengan cara Klasik atau Muller, yang bila tidak berhasil dipakai cara Lovset. Untuk melahirkan kepala dipakai cara Mauriceau, bila tidak berhasil digunakan cunam Piper.
Pada partus lama kala II, preeklampsia berat dan eklampsia, prolapsus funnikulidan ibu dengan penyakit jantung atau paru yang tidak memungkinkan ibu mengedan, dilakukan ekstraksi total.
Sedang indikasi melakukan persalinan perabdominal adalah : primigravida tua, nilai sosial janin yang tinggi atau infertilitas, riwayat persalinan  yang buruk, prakiraan berat badan janin lebih dari 3500 gram atau kurang dari 2000 gram, adanya disprorsi, plasenta previa, kepala hiperekstensi, presentasi kaki, prematur (< 37 minggu), ketuban), ketuban pecah lebih dari 12 jam, diameter biparietal > 9,5 cm, bokong belum masuk panggul pada akhir kehamilan pada nullipara, bokong belum masuk panggul pada inpartu multipara, indeks Zatuchni Andros 0-3 dan prolapsus funikuli disertai gawat janin.
Pada dasarnya Oxytocin drips pada letak sungsang tidak dianjurkan, oleh karena deteksi kemungkinan adanya CPD/FPD sulit.

CARA-CARA PERSALINAN PADA LETAK SUNGSANG :
a.      Pervaginam :
·     Bracht
·     Ekstraksi parsial (melahirkan bahu), terdiri dari : Klasik (Deventer) & Muller
·      Lovset (bila melhirkan bahu secara ekstraksi parsial gagal)
·      Mauriceau (melahirkan kepala), bila gagal à pakai cunam Piper
·      Ekstraksi total, terdiri dari : Ekstraksi bokong & Ekstraksi kaki.
b.    Perabdominam : bila  ada indikasi à lihat skema penatalaksanaan letak sungsang.

PROGNOSIS :
Bila dibandingkan dengan letak kepala, letak sungsang memberikan resiko yang lebih tinggi bagi ibu maupun anak.
Morbiditas ibu meningkat disertai sedikit peningkatan mortalitas oleh karena tindakan persalinan operatif, termasuk seksio sesar pada letak sungsang yang menetap.
Prognosis untuk janin letak sungsang lebih buruk dibandingkan dengan letak kepala. Penyebab utama kematian perinatal adalah persalinan prematur, kelainan kongenital dan trauma persalinan.

 

Jumat, 20 Juli 2012

Satu Ramadhan Bermakna di Bogor



Sebelumnya saya ingin mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Mohon Maaf Lahir dan Batin yaa... bagi yang mulai puasa tgl 20 Juli maupun yang baru mulai puasa tgl 21 Juli 2012. Beda lagi seperti tahun sebelumnya, Ramadhan di Indonesia mah selalu begini. Untuk penentuan satu Ramadhan harus diputuskan oleh Pemerintah dengan mengadakan sidang Isbat yang dihadiri berbagai ormas Islam di Indonesia. Tapi yang beda kali ini adalah tidak ikut/hadirnya ormas Islam dari Muhammadiyah. Pasti sudah pada tahu kan kenapa alasannya? Betul, "ini adalah masalah keyakinan, Pemerintah tidak seharusnya ikut masuk" kata Ketua Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Sesuai judul postingan ini, satu Ramadhan kali ini saya berada di Bogor, Parung Panjang. Ya, saya sudah mulai berpuasa tgl 20 Juli 2012, pertama kali Ramadhan di luar Makassar, pertama kali ketemu yang punya rumah, dan pertama kali naik kerta listrik. Untuk pertama yang pertama :) saya memang baru 2 minggu di Jakarta, bermaksud mengurus STR di Depkes sekalian jalan-jalan. Dan jalan-jalan ke Bogor kali ini memang sudah direncanakan lama, bertemu dengan saudara sepupu saya yang lama tinggal di sini (pertama kedua). Sudah sejak tahun 1977 beliau merantau ke Jakarta untuk bekerja, makanya baru kali ini ketemu. Untuk pertama ke tiga, memang ini pertama kalinya saya menggunalan jasa angkutan darat berupa kereta listrik. Dan pengalaman pertama ini yang seru. Saya tiba di Stasiun Kereta Tanah Abang pukul 9 pagi dan kertanya baru berangkat pukul 3 sore, sumpeh loh...
Selama di stasiun bersama Kakak sepupu saya, banyak hal bisa diceritakan. Mumpung masih teringat, jadi saya tuliskan saja di sini untuk saling berbagi pengalaman dengan pemabaca sekalian. Mulai dari kejadian di stasiun, keterlambatan kereta listrik waktu itu katanya seh disebabkan karena gangguan listrik, tapi yang disesalkan kami (pengguna jasa), kenapa tiket jam 12.30, 1.15, dan 3.00 dijual di loket sedangkan keretanya jelas belum pasti datang jam segitu. Petugas stasiun juga tidak memberikan pengumuman jelas mengenai keterlambatan kereta tadi, apa susahnya diumumkan penyebab keterlambatan tadi sehingga kami tahu dan tidak gelisah menunggu. Ujung-ujungnya kan kami tidak harus duduk nungguin datanya kereta dan bisa pergi makan dulu, mau makan takut nanti keretanya datang. 
Akhirnya dengan bekal roti dan teh botol kami makan sekedar untuk mengganjal perut sampai tiba di rumah pukul 4 sore. Asal dijalani dengan hati ikhlas perjalanan lama menjadi lebih menyenangkan karena akhirnya setelah 2 minggu di jakarta, baru kali ini saya melihat langit biru lagi... di Jakarta langitnya mendung melulu, penuh asap polusi kendaraan.Setelah makan siang, mandi, kami lalu sholat magrib di musholah dekat rumah dan saya sempet ikut perbincangan antar sesama pengurus musholah setempat. Satu petikan kalimat dari kakak sepupu saya tentang tatacara berogranisasi yaitu "organisasi layaknya air yang diaduk dalam gelas, pengurus organisasi sebagai airnya dan gelas sebagai organisasinya. Jika kita (pengurus) selalu mendekat ke tengah pusaran air (aktif dalam organisasi) maka kita akan terus berada dan dekat di dalamnya, tapi jika kita berada di luar atau menjauh (jarang aktif dalam organisasi) dari pusaran air maka secara otomatis kita akan terlempar jauh dari di luar pusaran air tadi. Plus satu lagi tentang frekuensi hati manusia. Usahakan selalu berpikir positif dan memikirkan atau meneleraskan frekuensi hati dan otak kita tentang apa yang kita mau, bukan yang tidak kita mau. Diumpamakan bila kita ingin menonton siaran pertandingan bola di RCTI, ubahlah channel (frekuensi) TV anda ke RCTI, bukan ke Global TV! Jika anda ingin sehat dan kaya, ubahlah channel (frekuensi) hati dan pikiran anda ke sehat dan kaya, bukan sakit dan miskin!

Sabtu, 14 Juli 2012

Ingin kontrol berat badan? coba ini

Kontrol berat badan Berdasarkan studi terbaru yang dibawakan pada konfrensi baru-baru ini, memotong makanan dalam ukuran kecil mungkin dapat menolong seseorang untuk mengontrol berat badan dengan lebih mudah karena membuat mereka menjadi lebih puas makan dibandingkan dengan memakan satu porsi besar yang sama kalorinya dengan porsi kecil.
Pertemuan Society for the study of ingestive behaviour yang berlangsung dari tanggal 10-14 Juli di Zurich, Switzerkand menyampaikan bagaimana peneliti berkesimpulan bahwa manusia seperti juga hewan, tampaknya lebih nyaman dan puas apabila memakan makanan dalam potongan kecil.
Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa makanan dengan porsi besar akan memicu sesorang untuk makan lagi. Pada pertemuan ini, para peneliti melakukan percobaan dengan menggunakan objek coba seekor tikus yang diletakkan pada maze berbentuk T dengan salah satu ujung T diletakaan makanan yang utuh tanpa potongan, sedangkan pada ujung T yang lain diletakkan makanan sejenis dengan jumlah dan berat yang sama tapi dipotong kecil-kecil. dari hasil percobaan didapatkan bahwa tikus tersebut lebih memeilih untuk memakan makanan yang telah dipotong kecil dari pada makanan tanpa dipotong kecil. Hal ini sama ketika posisi makanan tadi ditukar, tikus tersebut tetap memilih makanan di ujung maze T yang yang telah dipotong kecil.

Artinya tikus tersebut lebih menyukai makan makanan yang telah dipotong kecil daripada makanan utuh tanpa potongan. Hal inilah yang menjadi dasar bahwa jika kita memakan makanan yang telah dipotong kecil, maka tingkat kepuasan akan makanan tersebut lebih tinggi daripada makanan tanpa dipotong kecil. Sehingga kemungkinan untuk tidak makan lagi lebih besar karena hasrat untuk makan telah terpuaskan.